Minggu, 22 Mei 2016

Arti Sebuah kekecewaan

Dalam hening aku ungkapkan rasa yang ada di hati ini. Rasa dimana sakitnya aku ketika semua ini terjadi. Betapa pedihnya luka yang kau beri. Aku sadar semua yang aku alami tak juga kesalahanku. Betapa sembilu telah menusuk indahnya harapan masa depan denganmu. Aku memaafkanmu, tapi aku belom bisa menerima ini.
Aku cinta, sayang, rindu namun aku KECEWA. Setetes airmata membuat luka yang membuat lara.
Tertuju pada keindahan yang lenyap seketika. Terengguh kebahagian di jiwaku. Untaian kata manis telah terucap ketika cinta itu datang. Tak mudah merelakan butir tawa, namun mudah menghilangan tawa menjadi airmata. Saat aku lelah bertemu dengan cinta yang salah, kau datang mengobati luka. Namun, kini kau melukai hati yang telah kau obati.
Padamu yang telah memberikan kebahagiaan, aku tak ingin semua berakhir.
Padamu yang juga telah menoreh kekecewaan, terima kasih telah memberikan pelajaran untuk bertahan dalam rasa sakit. Aku berharap, semoga keajaiban akan datang. Memeluk kecewa dengan kebahagiaan. Amin:)

Apa ini keinginanmu?

Pernah ngga kamu coba mengenang tentang kita?
Coba bayangkan pertama kali kita kenal, bagaimana kita bisa dekat,kemana saja kita pergi, apa saja yang kita lewati berdua,,
Saat kita marah dan baikan,
Saat kita menangis bersama,
Saat aku menangis karenamu,
Saat aku bertingkah konyol di depanmu,
Saat aku bawelin kamu,
Saat pelukanmu menenangkanku,
Saat aku marah marah dan buatmu penat,
Bayangkan saat saat itu tak ada lagi,
Tiba tiba suara lantangku tak ada,
Tak ada missed call dari aku,
Tak ada telepon yang harus kamu angkat,
Tak ada Message yang harus kamu balas,
Tak ada BBM yang harus kamu balas,
Tak ada Ping!!! Yang menaikkan emosimu,
Tak ada marah dan tangisanku yang memuakkanmu lagi,
Saat itu apa kamu LEGA??

Mengertilah Kini kamu bagiku ialah waktuku

ketika hening yang tercipta. Ketika diam yang terus berbicara membisu tanpa suara. Dan ketika hanya jarum jam berdetak yang terdengar. Ketika pikiran yag terus memaksa beradu dengan hal-hal yang tidak ingin aku pikirkan, “sesibuk itukah kamu ?”
Malam tanpa bintang, malam tanpa langit yang cerah. Tetapi malam yang  ku benci. Menerka dan menunggu kabar darimu. Menunggu dengan penuh kekhawatiran, menunggu dan terus menunggu. Aku benci ini semua !!
Melirik jam dan teringat bahwa ini adalah hari sabtu dan berarti malam minggu. Lantas kenapa dengan malam minggu ? Sesuatu hal yang tidak begitu istimewa bagiku ketika tidak ada sosoknya di sampingku. Lantas kenapa dengan malam minggu ? Ketika pasangan yang lainnya bahagia dan bersenang-senang sedangkan aku harus menunggu sebuah kabar.
Ini malam minggu yang harusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi sepasang kekasih, tapi bagiku tidak. Aku harus menerka-nerka sendiri. Aku harus menunggu, demi sebuah kabar dari seorang yang ada di sana terpisah jarak denganku.
Sesibuk itukah kamu ? Sampai pada jam mengarah pukul 24.00 WIB aku masih menunggu. Aku tau aktivitas dan kegiatanmu hari ini seolah menyibukkan dan menyita waktumu. Tetapi apakah tidak bisa dan tidak sempat sama sekali menyempatkan waktu hanya untuk menanyakan bagaimana kabarku seharian atau mengingatkan aku untuk sekedar jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut ? Apakah tidak sempat sama sekali kamu memegang ponselmu ? Apakah orang-orang dan aktivitasmu itu terlalu menyenangkan dan mengasyikkan sampai akhirnya kamu menomorduakan aku tanpa kabarmu malam ini ? Hingga akhirnya, apakah kamu akan tega membiarkanku mengemis perhatian hanya demi sebuah kabar darimu ?
Selama ini apakah aku pernah menuntut kamu untuk selalu dua puluh empat jam menemaniku ? Apakah selama ini aku pernah mengeluh ketika aku merasa tidak diperhatikan ? Dan apakah aku pernah marah sedemikian hebatnya ketika kamu tidak mengabariku sama sekali ? Sedangkan aku pernah mengingatkanmu ketika waktu itu kamu pernah melewatkan malam tanpa mengabariku sama sekali. Dan ini terulang kembali. Aku benci !!
Kamu tau aku benci setiap kali tidak bertatap muka dan melihat ragamu secara langsung. Dan aku benci setiap kekhawatiran ini muncul. Sedang apa ? Sama siapa ? Dan melakukan apa ?
Aku benci pertanyaan-pertanyaan sederhana itu melintasi otakku. Yang akhirnya selalu menghadirkan pikiran buruk dibenakku. Aku selalu kerap ragu, selalu kerap tidak yakin. Ketika keadaan seperti ini menyiksaku sendiri. Harusnya ketika raga kita tidak bertemu, harusnya komunikasi meskipun hanya melalui ponsel dan berlangsung sangat singkat, aku hanya membutukan itu.
 Masihkah mampu menjaga sekeping hatimu ketika kita terpisah jarak dengan dikelilingi orang-orang disekitarmu? Ingatkah kamu atau sempat terfikirkah olehmu bahwa disini ada seorang yang mencemaskan dan selalu menunggu kabar darimu, sayang ? Ingatkah kamu atau terfikir bahwa samapi detik ini ada seorang yang berharap tiba-tiba namamu muncul diponselnya ? Apa kamu tau itu ?
Apakah selama ini aku tipe wanita yang selalu mengeluh, selalu marah ketika kekasihnya jarang memberi kabar ? Apakah selama ini aku pernah memintamu untuk selalu memberi kabar terhadapku setiap saat seperti wanita lainnya ? Apakah selama ini aku pernah menuntut untuk menemaniku dari pagi terbangun sampai tidur kembali meskipun hanya melalui pesan singkat atau telpon seperti wanita lainnya ?
Apakah aku pernah meminta jika pagi datang ada yang mengucapkan “selamat pagi ?” seperti wanita lainnya hanya untuk sekedar memberi semangat ?
Tidak kan ? Aku tidak seperti itu. Aku menghargai segala bentuk aktivitas dan kesibukanmu. Aku selalu berusaha mempercayai apapun yang ada meskipun terkadang aku harus berontak dengan persaanku sendiri ketika keadaan seperti ini menimpaku. Aku mencoba menenangkan keadaanku sendiri tanpa kamu mengetahuinya, tanpa kamu membantu untuk menenangkannya malam ini. Dan aku berusaha sendiri membuat perasaanku tetap baik-baik saja tanpa kamu mengerti. Aku selalu mencoba berusaha untuk mengerti, untuk menahan setiap amarah yang ada ketika kejadian ini sebenarnya menyiksa pikirankuku. Aku mencoba memahami akan segala bentuk aktifitasmu, tanpa berusaha untuk tidak mengganggu kesibukanmu dan mencoba mengerti tanpa kabar darimu. Tapi itu hanya akan memperlihatkan sisi munafikku karena pada ahirnya aku hanya ingin untuk sejenak diingat olehmu.
Aku tidak meminta lebih. Aku tidak menuntut banyak. Hanya saja tolong disela kesibukanmu sempatkan waktumu meskipun singkat, meskipun hanya sesaat untuk mengingatku. Meskipun kamu mengingatku hanya disela dan di ujung lelahmu lalu kamu mengantuk dan pamit untuk tertidur. Itu sudah lebih dari cukup dan mampu menenangkanku. Atau hanya untuk sekedar meyakinkanku bahwa sapai detik ini perasaan yang kamu miliki tidak pernah berubah untukku. Yang aku inginkan sderhana kan ?
Aku tidak ingin pikiran jelek ini terus menghantuiku. Aku takut kalau lelah itu hadir dan letih itu yang tercipta. Aku hanya takut ketika pikiran jelekku lebih mampu menjadi penguasa dibenakku daripada kepercayaanku hingga rasa sayangku untukmu berujung pada sebuah keraguan. Jangan biasakan aku tanpa kabar darimu, karena waktu bisa mengubah segalanya.
Dan aku takut ketika ragu itu hadir, ketika terlintas dibenakku “sesibuk itukah kamu?” Sampai tidak mengingatku ? Tolong sejenak lebih memahami dan mengerti ketika keadaan ini terulang kembali. Karena mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan

Sabtu, 30 April 2016

Kamu

Waktu mungkin akan menjawab arti penantian
Bersyukur untuk apa yg kita lewati
Karena bersamamu aku mengerti arti sebuah ketulusan
Keingan mu untuk menjagaku
Membuktikan arti sebuah keseriusan

Rabu, 20 April 2016

keep istiqomah, ukhti

Dunia memang terlihat begitu indah. bahkan mampu membuat kita lupa akan adanya ujung usia.
.
Dunia memang terlihat begitu indah. bahkan mampu membuat kita lupa akan adanya surga dan neraka.
.
Namun, dunia juga bisa membuat kita menangis. membuat kita bersedih. membuat kita putus asa. membuat kita patah hati. .
Tapi, yang perlu kita ingat. siapa pemilik dunia ini? siapa pencipta rasa ini? siapa yang mampu membuat kita bahagia atau bersedih?.
.
Jika jawabannya Allah dan itu pasti, maka pantaskah kita menangis karena urusan dunia?
.
Jika masih merasa punya Allah. pantaskah kita menangis karena ditinggal seseorang?
.
Jika masih merasa punya Allah. pantaskah kita menangis karena kehilangan sesuatu? sedangkan Allah Pemilik segalanya.
.
Allah pemilik segalanya dan akan kembali pada-Nya.
. *hapus air matamu :)*#keep istiqomah, ukhti!
Ya Allah apa rasa ini ?
Kenapa dengan diri ini ?
Kenapa dengan mata ini ?
Kenapa dengan hati ini?
Kenapa dengan fikiran ini?

Begitu sangat ku rasakan ... Bedanya hati saat merasa paling benar
Tapi sangat menyayat hati... Kenapa saat ku merasa benar...yg kurasa mala sakit dan menyesal
Apakah sebenarnya titik aku ini yg salah... Apa sebenarnya hati ini telah sakit ..
Kenapa tidak ada kebaikan dalam pandanganku...yg sangat sangat ku tentang di hati kecil ku...

Air mata sebagai saksi ini...saat apa yg ku ucapkab sebenarnya tak ingin aku ingkapkan...
Hati ini sebagai saksi...saaat merasakan tak harus ku lakukan namun aku lakukan

Minggu, 17 April 2016

Sadari Hidup

Setelah berlalu hampir satu tahun, kini aku menyadari akan arti ketulusan, kebahagiaan, keindahan, kebenaran, kepalsuan, pengorbanan,kekecewaan, bahkan pelajaran yg sangat berarti untuk.hidup ku ... Bukan hal mudah ternyata... Sekarang aku faham Allah berkehendak akan segala sesuatu...Ia yang punya kuasa atas hidup hambanya... Tidak ada yg mustahil bagiNya ..saat Ia berkehendak semuaNya akan terjadi...seperti banyak pertanyaan dihati kita ... "Kenapa Jika Allah mampu melakukan segalanya termasuk menghapus segala keburukan, kejahatan, kesedihan dan membuat hidup kita hanya tersisa kebahagiaan, keindahan dan kebaikan saja" pertanyaan itu tidak salah bukan guys... Tapi pertanyaan itu pula yg harus kita renungkan ... Kenapa karena dengan itu teman... Kita menyadari bahwa Allah menguji hambaNya yg berimanan.. Hanya saja kita sbgai hambanya perlu memilih hal mana yg kita pilih ..kebaikan ataukah keburukan... ?

Dan pada saat kita memilih kebaikan perlu kita sadari, jangan sekali kali melakukan kebaikan dan merasa diri kita baik bahkan lebih baik dari orang lain, sering memuji diri sendiri, selalu membandingkan diri kita dengan orang lain,,, kenapa jangan teman... Ia karena pada saat itu juga kita suda mendidik diri kita bukan melakukan kebaikan tetapi menjauhi kebaikan...