ketika hening yang tercipta. Ketika diam yang terus berbicara membisu tanpa suara. Dan ketika hanya jarum jam berdetak yang terdengar. Ketika pikiran yag terus memaksa beradu dengan hal-hal yang tidak ingin aku pikirkan, “sesibuk itukah kamu ?”
Malam tanpa bintang, malam tanpa langit yang cerah. Tetapi malam yang ku benci. Menerka dan menunggu kabar darimu. Menunggu dengan penuh kekhawatiran, menunggu dan terus menunggu. Aku benci ini semua !!
Melirik jam dan teringat bahwa ini adalah hari sabtu dan berarti malam minggu. Lantas kenapa dengan malam minggu ? Sesuatu hal yang tidak begitu istimewa bagiku ketika tidak ada sosoknya di sampingku. Lantas kenapa dengan malam minggu ? Ketika pasangan yang lainnya bahagia dan bersenang-senang sedangkan aku harus menunggu sebuah kabar.
Ini malam minggu yang harusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi sepasang kekasih, tapi bagiku tidak. Aku harus menerka-nerka sendiri. Aku harus menunggu, demi sebuah kabar dari seorang yang ada di sana terpisah jarak denganku.
Sesibuk itukah kamu ? Sampai pada jam mengarah pukul 24.00 WIB aku masih menunggu. Aku tau aktivitas dan kegiatanmu hari ini seolah menyibukkan dan menyita waktumu. Tetapi apakah tidak bisa dan tidak sempat sama sekali menyempatkan waktu hanya untuk menanyakan bagaimana kabarku seharian atau mengingatkan aku untuk sekedar jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut ? Apakah tidak sempat sama sekali kamu memegang ponselmu ? Apakah orang-orang dan aktivitasmu itu terlalu menyenangkan dan mengasyikkan sampai akhirnya kamu menomorduakan aku tanpa kabarmu malam ini ? Hingga akhirnya, apakah kamu akan tega membiarkanku mengemis perhatian hanya demi sebuah kabar darimu ?
Selama ini apakah aku pernah menuntut kamu untuk selalu dua puluh empat jam menemaniku ? Apakah selama ini aku pernah mengeluh ketika aku merasa tidak diperhatikan ? Dan apakah aku pernah marah sedemikian hebatnya ketika kamu tidak mengabariku sama sekali ? Sedangkan aku pernah mengingatkanmu ketika waktu itu kamu pernah melewatkan malam tanpa mengabariku sama sekali. Dan ini terulang kembali. Aku benci !!
Kamu tau aku benci setiap kali tidak bertatap muka dan melihat ragamu secara langsung. Dan aku benci setiap kekhawatiran ini muncul. Sedang apa ? Sama siapa ? Dan melakukan apa ?
Aku benci pertanyaan-pertanyaan sederhana itu melintasi otakku. Yang akhirnya selalu menghadirkan pikiran buruk dibenakku. Aku selalu kerap ragu, selalu kerap tidak yakin. Ketika keadaan seperti ini menyiksaku sendiri. Harusnya ketika raga kita tidak bertemu, harusnya komunikasi meskipun hanya melalui ponsel dan berlangsung sangat singkat, aku hanya membutukan itu.
Masihkah mampu menjaga sekeping hatimu ketika kita terpisah jarak dengan dikelilingi orang-orang disekitarmu? Ingatkah kamu atau sempat terfikirkah olehmu bahwa disini ada seorang yang mencemaskan dan selalu menunggu kabar darimu, sayang ? Ingatkah kamu atau terfikir bahwa samapi detik ini ada seorang yang berharap tiba-tiba namamu muncul diponselnya ? Apa kamu tau itu ?
Apakah selama ini aku tipe wanita yang selalu mengeluh, selalu marah ketika kekasihnya jarang memberi kabar ? Apakah selama ini aku pernah memintamu untuk selalu memberi kabar terhadapku setiap saat seperti wanita lainnya ? Apakah selama ini aku pernah menuntut untuk menemaniku dari pagi terbangun sampai tidur kembali meskipun hanya melalui pesan singkat atau telpon seperti wanita lainnya ?
Apakah aku pernah meminta jika pagi datang ada yang mengucapkan “selamat pagi ?” seperti wanita lainnya hanya untuk sekedar memberi semangat ?
Tidak kan ? Aku tidak seperti itu. Aku menghargai segala bentuk aktivitas dan kesibukanmu. Aku selalu berusaha mempercayai apapun yang ada meskipun terkadang aku harus berontak dengan persaanku sendiri ketika keadaan seperti ini menimpaku. Aku mencoba menenangkan keadaanku sendiri tanpa kamu mengetahuinya, tanpa kamu membantu untuk menenangkannya malam ini. Dan aku berusaha sendiri membuat perasaanku tetap baik-baik saja tanpa kamu mengerti. Aku selalu mencoba berusaha untuk mengerti, untuk menahan setiap amarah yang ada ketika kejadian ini sebenarnya menyiksa pikirankuku. Aku mencoba memahami akan segala bentuk aktifitasmu, tanpa berusaha untuk tidak mengganggu kesibukanmu dan mencoba mengerti tanpa kabar darimu. Tapi itu hanya akan memperlihatkan sisi munafikku karena pada ahirnya aku hanya ingin untuk sejenak diingat olehmu.
Aku tidak meminta lebih. Aku tidak menuntut banyak. Hanya saja tolong disela kesibukanmu sempatkan waktumu meskipun singkat, meskipun hanya sesaat untuk mengingatku. Meskipun kamu mengingatku hanya disela dan di ujung lelahmu lalu kamu mengantuk dan pamit untuk tertidur. Itu sudah lebih dari cukup dan mampu menenangkanku. Atau hanya untuk sekedar meyakinkanku bahwa sapai detik ini perasaan yang kamu miliki tidak pernah berubah untukku. Yang aku inginkan sderhana kan ?
Aku tidak ingin pikiran jelek ini terus menghantuiku. Aku takut kalau lelah itu hadir dan letih itu yang tercipta. Aku hanya takut ketika pikiran jelekku lebih mampu menjadi penguasa dibenakku daripada kepercayaanku hingga rasa sayangku untukmu berujung pada sebuah keraguan. Jangan biasakan aku tanpa kabar darimu, karena waktu bisa mengubah segalanya.
Dan aku takut ketika ragu itu hadir, ketika terlintas dibenakku “sesibuk itukah kamu?” Sampai tidak mengingatku ? Tolong sejenak lebih memahami dan mengerti ketika keadaan ini terulang kembali. Karena mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan